Gunung Merapi

Pemandangan di sebelah selatan desa langsung menatap ke gunung Merapi

Merapi

Pemandangan gunung Merapi dari atas desa.

Slide 3

..

Gunung Merapi

Pemandangan Gunung Merapi dari belakang rumah warga

Gunung Merbabu

Pemandangan Gunung Merbabu dari utara desa

Rabu, 02 September 2015

Pemandangan Alam Sekitar Desa Tritis



Minggu, 30 Agustus 2015

Kepercayaan Masyarakat

Kepercayaan
Desa Tritis merupakan sebuah desa yang terletak di lereng gunung merbabu tepatnya berada di kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Masyarakat di Desa Tritis masih sangat percaya bahwa gunung merbabu merupakan sebuah Kerajaan Gaib yang dijaga oleh Mbah Petruk. Mereka percaya bahwa di puncak Merbabu ada sebuah Keraton yang mirip dengan keraton Mataram, sehingga di sini ada organisasi sendiri yang mengatur hirarki pemerintahan dengan segala atribut dan aktivitasnya. Keraton Merbabu itu menurut kepercayaan masyarakat setempat diperintah oleh kakak beradik yaitu Empu Rama dan Empu Permadi. Seperti halnya pemerintahan sebagai sebagai Kepala Negara (Empu Rama dan Empu Permadi) melimpahkan kekuasaannya kepada Kyai Sapu Jagad yang bertugas mengatur keadaan alam Gunung Merbabu.
Berikutnya ada juga Nyai Gadung Melati, tokoh ini bertugas memelihara kehijauan tanaman Merbabu. Ada Kartadimeja yang bertugas memelihara ternak keraton dan sebagai komando pasukan makhluk halus. Ia merupakan tokoh yang paling terkenal dan disukai penduduk karena acapkali memberi tahu kapan Merbabu akan meletus dan apa yang harus dilakukan penduduk untuk menyelamatkan diri. Tokoh berikutnya Kyai Petruk yang dikenal sebagai salah satu prajurit Merbabu.
Mereka sangat percaya jika ingin selamat dari amukan merbabu, maka mereka harus melakukan semacam penghormatan dengan memberi sesaji kepada penguasa merbabu.
Salah satu contoh nyata adalah beberapa saat setelah letusan merbabu beberapa bulan lalu, tepatnya saat 1 muharam (1 sura ). Saat itu Pemerintah Kabupaten Boyolali menolak melakukan ritual sedekah gunung yang biasa dilaksanakan pada saat 1 sura, dengan alasan keadaan merbabu masih sangat berbahaya. Tetapi warga di Desa Tritis tetap nekat ingin melaksanakan ritual sedekah gunung, karena mereka khawatir jika ritual tidak dilakukan maka bencana lebih dasyat akan menimpa mereka. Akhirnya mereka melaksanakan ritual dengan biaya sendiri meskipun keadaan waktu itu masih berbahaya.
Ritual sedekah gunung merupakan  ritual yang diawali mengarak kepala kerbau dan sesaji lainnya berupa gunungan nasi jagung yang jumlahnya tujuh sesuai ajaran Walisongo. Selain itu, sesaji juga berupa gunungan dua tumpeng nasi liwet yang dihiasi sayuran atau hasil bumi yang disebut kalawija di lereng merbabu. Tidak ketinggalan ayam jawa yang dibuat ingkung. Ritual diawali dengan mengarak sesaji dari rumah warga menuju joglo Selo untuk didoakan dan diakhiri mengorbankan kepala kerbau ke kawah merbabu.
Selain sedekah gunung, salah satu tradisi yang masih dijaga masyarakat di Desa Tritis adalah Merti Desa ( Bersih Desa ). Merti Desa merupakan sebuah ritual tanda syukur karena kawasan Desa Tritis terbebas dari bencana. Merti Desa dilakukan oleh masyarakat setempat setiap pertengahan Maulud . Pada tradisi merti desa ini, masyarakat Desa Tritis akan  mengenakan pakaian lengkap khas Jawa, dengan membawa sesaji antara lain berupa nasi tumpeng dan bebagai buah-buahan.
Dalam masyarakat berkembang kepercayaan adat jawa. Yaitu terhadap penghuni atau penunggu gunung Merbabu yang mereka sebut Mbah Petruk. Mbah Petruk adalah tokoh yang diyakini sebagai penunggu gunung Merbabu yang telah menjaga gunung Merbabu dari bahaya letusan Sehingga masyarakat terhindar dari kerusakan. Untuk itu masyarakat setiap tanggal 1 suro selalu menggelar sedekah gunung. Acara sedekah gunung diperuntukkan bagi penunggu gunung merbabu demi keselamatan masyarakat.
Acara sedekah gunung dimulai dengan menggelar doa bersama seluruh masyarakat desa, kemudian dilanjutkan dengan mengarak kerbau keliling desa dengan pertunjukan kesenian tradisional dengan berbagai atraksi tari tarian, reog dll. Kemudian dilakukan penyembelihan kerbau. Setelah itu pada malam harinya dilakukan upacara penyerahan kepala kerbau kepada tokoh masyarakat yang dipercaya untuk memimpin upacara. Selanjutnya kepala kerbau dibawa rombongan masyarakat menuju pasar bubar. Pasar bubar adalah daerah yang diyakini masyarakat sebagai tempat bersemayamnya mbah petruk dan abdi- abdi nya. Butuh waktu 4 jam untuk melakukan perjalanan dengan jalan kaki untuk mencapai pasar bubar. Kemudian kepala kerbau diletakkan beserta sesajen - sesajen yang lain.
Dengan adanya upacara sedekah gunung tersebut ,masyarakat mempercayai bahwa mereka akan terhindar dari bahaya letusan gunung merbabu. Selain itu juga mereka percaya bahwa dengan menggelar upacara tersebut akan membuat tanah yang mereka olah akan menjadi subur sehingga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Letusan gunung merbabu yang terakhir terjadi adalah pada tanggal 26 Oktober 2010. Letusan pada saat itu juga tergolong besar dalam beberapa tahun terakhir. Masyarakat dusun Temusari juga diungsikan ke daerah yang lebih aman guna menghidari bencana awan panas wedus gembel. Tetapi dusun ini tergolong tidak mengalami kerusakan yang parah karena hanya terkena abu vulkanik. Untuk itu masyarakat semakin percaya dengan adanya sedekah gunung karena mereka beranggapan bahwa karena mereka rutin menggelar upacara tersebut sehingga mereka terhindar dari bencana yang bisa merugikan mereka. Pada kesimpulannya bahwa di dusun Temusari ini masyarakat mayoritas beragama islam tetapi mereka juga menganut kepercayaan adat jawa yaitu kepercayaan tentang roh halus yang menjaga gunung merbabu.

Agama

Agama

Penduduk di desa Tritis mayoritas beragama Islam, yang berjumlah 3.280 orang, dimana Islam disini terbagi menjadi dua yaitu NU dan Muhammadiyah. Dengan adanya fasilitas pendukung seperti masjid ( ada 9), mushola ( ada 2 ), dan 1 pondok pesantren dengan kyai sebanyak 4 orang dan santri sebanyak 62 ( data monografi desa Tritis semester II tahun 2010 ).

Adapun penduduk yang memeluk agama non-muslim tetapi jumlahnya sangat sedikit, hanya  3 orang saja ( data monografi desa Tritis semester II tahun 2010 ). Selain itu masih terdapat beberapa bagian penduduk yang menganut tradisi Kejawen, dimana mereka pada umumnya tidak pernah melakukan sembahyang lima waktu dan hanya berpuasa pada bulan tertentu, itupun didasarkan atas perilaku masyarakat. Dasar agama kejawen ini pada dasarnya adalah keyakinan bahwa segala sesuatu pada hakikatnya adalah satu kesatuan, walaupun terdiri dari berbagai unsur, tetapi merupakan satu kesatuan hidup.

Dalam berbagai penelitian terungkap bahwa Kejawen adalah suatu kompleks keyakinan dan konsep – konsep Hindu Budha yang cenderung ke arah mistis yang tercampur menjadi satu dan diakui sebagai agama Islam ( Koentjaraningrat, 1984:312). Penganut kejawen ini percaya bahwa alam didiami oleh makhluk – makhluk halus yang mendiami alam itu ( Koentjaraningrat, 1985:224 ). Kejawen ini masih kental dimiliki oleh masyarakat penduduk tersebut karena mereka masih percaya pada arwah leluhur dengan melaksanakan tradisi ( adat – istiadat ) untuk memujanya.

Jumat, 28 Agustus 2015

Papan Monografi Desa Tritis Keadaan Bulan September Tahun 2015

PAPAN MONOGRAFI DESA TRITIS
KEADAAN PADA BULAN  SEPTEMBER TAHUN 2015

1.
Nama Desa
:
TRITIS
2.
Tahun Pembentukan
:
_
3.
Dasar Hukum Pembentukan
:
_
4.
Nomor Kode Wilayah
:
_
5.
Nomor Kode Pos
:
_
6.
Kecamatan
:
SELO
7.
Kabupaten / Kota
:
BOYOLALI
8.
Provinsi
:
JAWA TENGAH

A.   DATA UMUM
1.
Tipologi Desa
:
Dataran tinggi/pertanian
2.
Tingkat Perkembangan Desa
:
Swadaya
3.
Luas Wilayah
:
_
4.
Batas Wilayah



a.      Sebelah Utara
:
Desa Kecamatan Selo

b.      Sebelah Selatan
:
Desa Kecamatan Selo

c.      Sebelah Barat
:
Desa Grintingan Kecamatan Selo

d.      Sebelah Timur
:
Desa Kecamatan Selo
5.
Orbitasi (Jarak dari Pusat Pemerintahan)



a.   Jarak dari Pusat Pemerintahan Kecamatan
:
5 Km

b.    Jarak dari Pusat Pem. Ibukota Negara
:
500 Km

c.    Jarak dari Pusat Ibukota Kabupaten
:
30 Km

d.   Jarak dari Pusat Ibukota Provinsi
:
100 Km
6.
Jumlah Penduduk
:
_ Jiwa ,_ KK

a.       Laki-laki
:
_ Jiwa

b.      Perempuan
:
_ jiwa

c.       Usia    0 - 15
:
_ Jiwa

d.      Usia  15 – 65
:
_ Jiwa

e.  Usia  65 keatas
:
_ Jiwa
7.
Mayoritas Pekerjaan
:
Petani
8.
Tingkat Pendidikan Masyarakat



a.       Lulusan Pendidikan Masyarakat



1)      Taman Kanak-Kanak
:
_ Orang

2)      Sekolah Dasar
:
_ Orang

3)      SMP
:
_ Orang

4)      SMA / SMU
:
_ Orang

5)      Akademi /D1 – D3
:
_ Orang

6)      Sarjana
:
_ Orang

7)      Pasca Sarjana
:
_

b.      Lulusan Pendidikan Khusus
:
_

1)      Pondok Pesantren
:
_

2)      Pendidikan Keagamaan
:
_

3)      Sekolah Luar Biasa
:
_

4)      Kursus Keterampilan
:
_

a.       Tidak lulus / Tidak /belum sekolah
:
_
9.
Jumlah Penduduk Miskin
:
_
10.
UMR Kabupaten /Kota
:
_
11.
Sarana Prasarana



a.       Kantor Desa
:
permanen

b.      Prasarana Kesehatan
:


1)      Puskesmas
:
_ buah

2)      Poskedes
:
_

3)      UKBM (Posyandu,Polindes)
:
Posyandu 1 buah

c.       Prasarana Pendidikan
:


1.      Perpusdes
:
_

2.      PAUD
:
_

3.      TK
:
_

4.      SD
:
_

5.      SMP
:
_

6.      SMA
:
_

7.      PT
:
_

d.      Prasarana Ibadah
:


1.      Mesjid
:
1 buah

2.      Mushola
:
_

3.      Gereja
:
_

4.      Pura
:
_

5.      Wihara
:
_

6.      Klenteng
:
_

e.       Prasarana Umum
:


1.      Olahraga
:
_

2.      Kesenian Budaya
:
_ buah

3.      Balai Pertemuan
:
_ buah

4.      Sumber Air Desa
:
2 buah

5.      Pasar Desa
:
_

6.      Lainnya
:
_