Gunung Merapi

Pemandangan di sebelah selatan desa langsung menatap ke gunung Merapi

Merapi

Pemandangan gunung Merapi dari atas desa.

Slide 3

..

Gunung Merapi

Pemandangan Gunung Merapi dari belakang rumah warga

Gunung Merbabu

Pemandangan Gunung Merbabu dari utara desa

Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Agustus 2015

Sosial dan Ekonomi Masyarakat Desa Tritis

Sosial dan Ekonomi Masyarakat Desa Tritis 
              Masyarakat Desa Tritis didominasi oleh keturunan suku Jawa sehingga adat jawa masih dianut kuat oleh masyarakatnya. Selain itu, masyarakat Tritis memiliki sikap guyup (suka bekerjasama, bergaul dan tolong menolong) dan tepo seliro (tenggang rasa) yang tinggi dan tercermin dalam kesehariannya. Setiap kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat selalu dilaksanakan dengan bergotong royong. Sementara itu kelembagaan sosial yang ada seperti kelompok tahlil, majelis ta’lim, kelompok tani, kelompok perempuan, kelompok pemandu wisata, kelompok pecinta lingkungan, Merbabu Merbabu Club (MMC) dan karang taruna. Hal Ini menunjukkan bahwa masyarakat Tritis memiliki semangat kebersamaan yang tinggi.
              Aktifitas pertanian sayuran mendominasi kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Tritis sehingga tidak mengherankan jika Tritis merupakan salah satu sentra penghasil sayuran di Kabupaten Boyolali. Adapun jenis sayuran yang dihasilkan adalah wortel, kol, kubis, loncang, bawang, dll. Namun tingkat kepemilikan lahan masyarakatnya yang tergolong sempit yaitu rata-rata 0,25 Ha mendorong masyarakat untuk membuka kawasan hutan menjadi lahan pertanian sayuran. Aktifitas tersebut menjadi faktor utama penyebab menurunnya kualitas ekosistem sumberdaya hutan. Kemiskinan di Tritis ini mencapai 298 KK (44,2%) dari total kepala keluarga yang ada.
              Selain bertani sayuran, masyarakat juga mengusahakan ternak sapi perah dan sapi pedaging. Susu yang dihasilkan dijual ke koperasi terdekat sehingga masyarakat mendapatkan penghasilan harian. Di sisi lain, keindahan kawasan Selo menjadikan daya tarik wisata yang kemudian dikembangkan oleh pihak propinsi Jawa Tengah dengan konsep SSB ( Solo – Selo – Borobudur) . Tentu saja hal ini bisa meningkatkan roda perekonomian di Desa Tritis yang berimbas kepada tambahan penghasilan bagi masyarakat dengan menjadi pemandu wisata, homestay, agrowisata, dll.

Sarana Perekonomian 
              Terdapat 1 (satu) pasar tradisional yang dikelola oleh Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Pengelolaan Pasar Kabupaten yaitu Pasar Selo di Desa Samiran dan ada 2(dua) pasar yang dikelola oleh Desa yang berlokasi di Gebyok, Selo dan Jrakah yang merupakan pendukung jalur pariwisata SSB (Solo Selo Borobudur).
              Terletak di kawasan objek wisata Selo, 25 km ke arah Barat dari Kabupaten Boyolali. Para pengunjung dapat menikmati dan memetik sendiri aneka ragam sayuran, antara lain : wortel, kol, daun adas, dan lain-lain.








Rabu, 26 Agustus 2015

Lingkungan Sosial Masyarakat Desa Tritis


Lingkungan Sosial
Masyarakat di Desa Tritis masih memegang teguh tradisi kemasyarakatan di zaman dahulu dan masih kental terasa. Saat kita mengunjungi desa itu kita akan merasakan suasana yang berbeda dan seperti kembali ke zaman dahulu. Kadang kita juga melihat keadaan atau suasanna yang sudah lama tidak kita lihat di kota. Beberapa hal yang terlihat dari masyarakatnya saat datang ke sana adalah :
Keramahan
Masyarakat desa Tritis akan menyapa kita meski hanya dengan senyum saat bertukar pandang meski tidak saling kenal. Jika kita memiliki kesulitan, jika kita bertanya mereka akan dengan senang hati menjawab pertanyaan kita. Bertamu ke rumah mereka, kita di sambut dengan hangat dan tidak lupa di suguhi minuman. Anak-anaknya pun sangat ceria dan tidak memandang orang asing dengan kaku, mereka berinteraksi dengan sangat baik. Jika kita datang ke sana sebagai orang asing, kita tidak akan merasakan bahwa kita orang asing. Kita akan merasa sangat senang karena di terima dengan baik.
Kebersamaan
Gotong royong, kegiatan saling bahu membahu dengan suka rela. Kita sudah jarang melihat kegiatan ini di masa sekarang. Tapi masyarakat desa Tritis sepertinya masih belum melupakan kegiatan ini. Mereka rutin melakukan bersih desa bersama-sama untuk menjaga lingkungan. Gotong-royong masih sangat kental, seperti membangun rumah. Dilakukan oleh satu tetangga RT, baik laki-laki maupun perempuan. Jika pekerjaan yang di lakukan lebih besar, maka bisa mencapai satu desa untuk membantu pengerjaan rumah itu. Yang laki-laki melakukan di lapangan, sedangkan perempuan atau ibu-ibu banyak yang membantu di dapur. Gotong-royong dilakukan sampai pekerjaan dalam membangun rumah selesai. Tidak ada bayaran, namun di sediakan makanan seadanya. Dan juga suka rela tanpa ada yang meminta.
Jika ada yang meninggal, semua pasti datang untuk melayat. Dan semua ketua RT dan RW pasti datang untuk melayat yang ada di desanya. Kumpul-kumpul warga sering dilakukan di sela-sela kegiatan bekerja. Anak-anak bermain kebanyakan dengan kegiatan fisik dan bersama-sama dengan temannya. Setiap warga mengenal tetangganya dengan baik.
Kesopananan Tradisional
Masyarakat desa Tritis masih memegang teguh kesopanan dan aturan tradisional. Seperti jam malam bagi anak-anak dan perempuan. Tidak adak perempuan yang keluar rumah di atas jam 7 malam jika tidak ada kepentingan yang mendesak. Begitu juga anak-anak. Mereka masih beranggapan dan mempercayai bahwa perempuan itu tidak boleh keluar malam-malam karena itu adalah tindakan yang kurang sopan dan membuat persepsi atau pandangan negatif pada perempuan itu.
Selain itu mereka juga menjunjung tinggi nilai keagamaan. Mereka menganggap agama sangat penting karena itu mereka mengirim anak-anak mereka ke TPA sedari kecil untuk belajar mengaji dan mendalami agama. Selain itu pertemuan rutin keagamaan juga sering dilakukan oleh orang dewasa, seperti mengadakan kegiatan mengaji bersama.

Kesederhanaan
Masyarakat desa Tritis masih di bilang sangat sederhana dan berfikiran untuk individu. Seperti Fikiran untuk memajukan desa mereka secara swadana masih belum begitu banyak, sebagai contoh meski tahu akan mendapatkan keuntungan dengan menyediakan rumah untuk Homestay, tapi masih belum banyak yang ingin memanfaatkan itu. Cara hidup merekapun masih sangat sederhana. Banyak kita temui masyarakat yang berjalan sambil membawa rumput di punggung mereka. Atau berjalan bersama-sama ke ladang. Jika tidak ada kegiatan di ladang, mereka lebih memilih istirahat atau berkumpul dengan warga yang lain. Tidak ada upaya untuk mencari cara lain agar dapat menaikan taraf hidup mereka.