Kepercayaan
Desa
Tritis merupakan sebuah desa yang terletak di lereng gunung merbabu tepatnya
berada di kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Masyarakat di Desa Tritis
masih sangat percaya bahwa gunung merbabu merupakan sebuah Kerajaan Gaib yang
dijaga oleh Mbah Petruk. Mereka percaya bahwa di puncak Merbabu ada sebuah
Keraton yang mirip dengan keraton Mataram, sehingga di sini ada organisasi
sendiri yang mengatur hirarki pemerintahan dengan segala atribut dan
aktivitasnya. Keraton Merbabu itu menurut kepercayaan masyarakat setempat
diperintah oleh kakak beradik yaitu Empu Rama dan Empu Permadi. Seperti halnya
pemerintahan sebagai sebagai Kepala Negara (Empu Rama dan Empu Permadi)
melimpahkan kekuasaannya kepada Kyai Sapu Jagad yang bertugas mengatur keadaan
alam Gunung Merbabu.
Berikutnya
ada juga Nyai Gadung Melati, tokoh ini bertugas memelihara kehijauan tanaman
Merbabu. Ada Kartadimeja yang bertugas memelihara ternak keraton dan sebagai
komando pasukan makhluk halus. Ia merupakan tokoh yang paling terkenal dan
disukai penduduk karena acapkali memberi tahu kapan Merbabu akan meletus dan
apa yang harus dilakukan penduduk untuk menyelamatkan diri. Tokoh berikutnya
Kyai Petruk yang dikenal sebagai salah satu prajurit Merbabu.
Mereka
sangat percaya jika ingin selamat dari amukan merbabu, maka mereka harus
melakukan semacam penghormatan dengan memberi sesaji kepada penguasa merbabu.
Salah
satu contoh nyata adalah beberapa saat setelah letusan merbabu beberapa bulan
lalu, tepatnya saat 1 muharam (1 sura ). Saat itu Pemerintah Kabupaten Boyolali
menolak melakukan ritual sedekah gunung yang biasa dilaksanakan pada saat 1
sura, dengan alasan keadaan merbabu masih sangat berbahaya. Tetapi warga di
Desa Tritis tetap nekat ingin melaksanakan ritual sedekah gunung, karena mereka
khawatir jika ritual tidak dilakukan maka bencana lebih dasyat akan menimpa
mereka. Akhirnya mereka melaksanakan ritual dengan biaya sendiri meskipun
keadaan waktu itu masih berbahaya.
Ritual
sedekah gunung merupakan ritual yang
diawali mengarak kepala kerbau dan sesaji lainnya berupa gunungan nasi jagung
yang jumlahnya tujuh sesuai ajaran Walisongo. Selain itu, sesaji juga berupa
gunungan dua tumpeng nasi liwet yang dihiasi sayuran atau hasil bumi yang
disebut kalawija di lereng merbabu. Tidak ketinggalan ayam jawa yang dibuat
ingkung. Ritual diawali dengan mengarak sesaji dari rumah warga menuju joglo
Selo untuk didoakan dan diakhiri mengorbankan kepala kerbau ke kawah merbabu.
Selain
sedekah gunung, salah satu tradisi yang masih dijaga masyarakat di Desa Tritis
adalah Merti Desa ( Bersih Desa ). Merti Desa merupakan sebuah ritual tanda
syukur karena kawasan Desa Tritis terbebas dari bencana. Merti Desa dilakukan
oleh masyarakat setempat setiap pertengahan Maulud . Pada tradisi merti desa
ini, masyarakat Desa Tritis akan
mengenakan pakaian lengkap khas Jawa, dengan membawa sesaji antara lain
berupa nasi tumpeng dan bebagai buah-buahan.
Dalam
masyarakat berkembang kepercayaan adat jawa. Yaitu terhadap penghuni atau
penunggu gunung Merbabu yang mereka sebut Mbah Petruk. Mbah Petruk adalah tokoh
yang diyakini sebagai penunggu gunung Merbabu yang telah menjaga gunung Merbabu
dari bahaya letusan Sehingga masyarakat terhindar dari kerusakan. Untuk itu
masyarakat setiap tanggal 1 suro selalu menggelar sedekah gunung. Acara sedekah
gunung diperuntukkan bagi penunggu gunung merbabu demi keselamatan masyarakat.
Acara
sedekah gunung dimulai dengan menggelar doa bersama seluruh masyarakat desa,
kemudian dilanjutkan dengan mengarak kerbau keliling desa dengan pertunjukan
kesenian tradisional dengan berbagai atraksi tari tarian, reog dll. Kemudian
dilakukan penyembelihan kerbau. Setelah itu pada malam harinya dilakukan
upacara penyerahan kepala kerbau kepada tokoh masyarakat yang dipercaya untuk
memimpin upacara. Selanjutnya kepala kerbau dibawa rombongan masyarakat menuju
pasar bubar. Pasar bubar adalah daerah yang diyakini masyarakat sebagai tempat
bersemayamnya mbah petruk dan abdi- abdi nya. Butuh waktu 4 jam untuk melakukan
perjalanan dengan jalan kaki untuk mencapai pasar bubar. Kemudian kepala kerbau
diletakkan beserta sesajen - sesajen yang lain.
Dengan
adanya upacara sedekah gunung tersebut ,masyarakat mempercayai bahwa mereka
akan terhindar dari bahaya letusan gunung merbabu. Selain itu juga mereka
percaya bahwa dengan menggelar upacara tersebut akan membuat tanah yang mereka
olah akan menjadi subur sehingga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Letusan
gunung merbabu yang terakhir terjadi adalah pada tanggal 26 Oktober 2010.
Letusan pada saat itu juga tergolong besar dalam beberapa tahun terakhir.
Masyarakat dusun Temusari juga diungsikan ke daerah yang lebih aman guna
menghidari bencana awan panas wedus gembel. Tetapi dusun ini tergolong tidak
mengalami kerusakan yang parah karena hanya terkena abu vulkanik. Untuk itu
masyarakat semakin percaya dengan adanya sedekah gunung karena mereka
beranggapan bahwa karena mereka rutin menggelar upacara tersebut sehingga
mereka terhindar dari bencana yang bisa merugikan mereka. Pada kesimpulannya
bahwa di dusun Temusari ini masyarakat mayoritas beragama islam tetapi mereka
juga menganut kepercayaan adat jawa yaitu kepercayaan tentang roh halus yang
menjaga gunung merbabu.
0 komentar:
Posting Komentar