Kamis, 27 Agustus 2015

Adat – Istiadat

Adat – Istiadat

Masyarakat di Desa Tritis pada umumnya masih mempertahankan adat -istiadat warisan nenek moyang yang dilakukan secara turun temurun. Contohnya: Syawalan, ruwahan,puputan, rejeban, ruwatan, tingkeban, sedekah bumi, dan selamatan orang yang meninggal ( pidakan ).
Masyarakat Desa Tritis memandang alam sebagai suatu rahasia yang menyimpan misteri. Oleh karena itu masyarakat mengadakan berbagai upacara serta mengadakan berbagai bentuk penghormatan pada para roh agar memelihara keselamatan dan kesuburan alam lingkungannya. Untuk memperoleh sesuatu mereka berusaha memikat roh-roh dengan cara menghidangkan sesaji.
Berbagai sesaji yang dipersembahkan kepada roh para leluhur setempat dengan maksud agar masyarakat terlindungi dari segala marabahaya. Selamatan atau slametan merupakan upacara yang terpenting. Pada acara upacara selalu diadakan makan bersama. Adapun sesaji yang dihidangkan umumnya berupa minuman, makanan, tembakau, rokok, bunga, kemenyan serta hasil bumi.
Dalam tindakan-tindakan mereka selalu dibayangi rasa tergantung pada alam gaib. Pikiran masyarakat tertuju pada arwah yang mereka yakini. Konsep yang demikian menjadi suatu tradisi, jika tidak dilakukan maka warga masyarakat kurang tenang  hatinya. Pesan-pesan nasehat orang tua yang telah meninggal sangat dipegang teguh masyarakat secara turun temurun.
Upacara yang mendapat perhatian khusus misalnya bersih desa yang jatuh pada bulan Sapar pada penanggalan Jawa sehingga disebut dengan Saparan. Upacara bersih desa yang dilakukan penduduk Desa Tritis memiliki maksud dan tujuan mendapatkan keselamatan. Seperti pendapat Clifford Geertz (1981) menjelaskan bahwa bersih desa/dusun merupakan upacara yang berhubungan dengan tujuan untuk keselamatan dusun. Oleh sebab itu upacara untuk pelaksanaannya terbatas pada suatu teritorial tertentu yaitu dusun/desa. Adapun upacara bersih dusun dilengkapi dengan cara menghaturkan makanan-makanan yang dibuat oleh penduduk kepada danyang desa atau dusun.
Selain upacara selamatan, juga melakukan upacara berhubungan dengan hari-hari besar agama Islam dan rentetan kegiatan yang menyertai antara lain dengan pesta seni. Pelaksanaan yang berhubungan dengan agama Islam adalah tradisi Syawalan. Pelaksanaan tradisi Syawalan dilakukan oleh semua warga secara gotong-royong. Pada tradisi Syawalan selalu menampilkan tari-tarian yang mereka miliki, diantaranya adalah Tari Campur Bawur. Tari-tarian yang digarap rakyat, berkembang di pedesaan disusun untuk kepentingan rakyat setempat. Masyarakat Desa Tritis mementaskan tari-tarian lebih didasari oleh dorongan kebutuhan naluri yang menyangkut kepercayaan dan perayaan-perayaan adat. Hal ini dilakukan masyarakat Desa Tritis sebagai langkah untuk mencapai suatu kesejahteraan hidup serta keselamatan jiwa.


0 komentar:

Posting Komentar