Adat – Istiadat
Masyarakat
di Desa Tritis pada umumnya masih mempertahankan adat -istiadat warisan nenek
moyang yang dilakukan secara turun temurun. Contohnya: Syawalan,
ruwahan,puputan, rejeban, ruwatan, tingkeban, sedekah bumi, dan selamatan orang
yang meninggal ( pidakan ).
Masyarakat
Desa Tritis memandang alam sebagai suatu rahasia yang menyimpan misteri. Oleh karena itu masyarakat mengadakan
berbagai upacara serta mengadakan berbagai bentuk penghormatan pada para roh
agar memelihara keselamatan dan kesuburan alam lingkungannya. Untuk memperoleh
sesuatu mereka berusaha memikat roh-roh dengan cara menghidangkan sesaji.
Berbagai
sesaji yang dipersembahkan kepada roh para leluhur setempat dengan maksud agar
masyarakat terlindungi dari segala marabahaya. Selamatan atau slametan
merupakan upacara yang terpenting. Pada acara upacara selalu diadakan makan
bersama. Adapun sesaji yang dihidangkan umumnya berupa minuman, makanan,
tembakau, rokok, bunga, kemenyan serta hasil bumi.
Dalam
tindakan-tindakan mereka selalu dibayangi rasa tergantung pada alam gaib.
Pikiran masyarakat tertuju pada arwah yang mereka yakini. Konsep yang demikian
menjadi suatu tradisi, jika tidak dilakukan maka warga masyarakat kurang
tenang hatinya. Pesan-pesan
nasehat orang tua yang telah meninggal sangat dipegang teguh masyarakat secara
turun temurun.
Upacara
yang mendapat perhatian khusus misalnya bersih desa yang jatuh pada bulan Sapar
pada penanggalan Jawa sehingga disebut dengan Saparan. Upacara bersih desa yang
dilakukan penduduk Desa Tritis memiliki maksud dan tujuan mendapatkan
keselamatan. Seperti pendapat Clifford Geertz (1981) menjelaskan bahwa bersih
desa/dusun merupakan upacara yang berhubungan dengan tujuan untuk keselamatan
dusun. Oleh sebab itu upacara untuk pelaksanaannya terbatas pada suatu
teritorial tertentu yaitu dusun/desa. Adapun upacara bersih dusun dilengkapi
dengan cara menghaturkan makanan-makanan yang dibuat oleh penduduk kepada
danyang desa atau dusun.
Selain
upacara selamatan, juga melakukan upacara berhubungan dengan hari-hari besar
agama Islam dan rentetan kegiatan yang menyertai antara lain dengan pesta seni.
Pelaksanaan yang berhubungan dengan agama Islam adalah tradisi Syawalan.
Pelaksanaan tradisi Syawalan dilakukan oleh semua warga secara gotong-royong.
Pada tradisi Syawalan selalu menampilkan tari-tarian yang mereka miliki,
diantaranya adalah Tari Campur Bawur. Tari-tarian yang digarap rakyat,
berkembang di pedesaan disusun untuk kepentingan rakyat setempat. Masyarakat
Desa Tritis mementaskan tari-tarian lebih didasari oleh dorongan kebutuhan
naluri yang menyangkut kepercayaan dan perayaan-perayaan adat. Hal ini
dilakukan masyarakat Desa Tritis sebagai langkah untuk mencapai suatu
kesejahteraan hidup serta keselamatan jiwa.
0 komentar:
Posting Komentar