Gunung Merapi

Pemandangan di sebelah selatan desa langsung menatap ke gunung Merapi

Merapi

Pemandangan gunung Merapi dari atas desa.

Slide 3

..

Gunung Merapi

Pemandangan Gunung Merapi dari belakang rumah warga

Gunung Merbabu

Pemandangan Gunung Merbabu dari utara desa

Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Agustus 2015

Latar Belakang Desa Tritis

Latar Belakang Desa Tritis
Sebagai observasi ini untuk mengetahui kondisi ekonomi Desa Tritis dalam mengembangkan kegiatan ekonominya guna meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Seperti kita tahu bahwa masyarakat Desa Tritis yang beberapa waktu lalu terkena bencana letusan Gunung Merapi masih dalam tahap pemulihan. Untuk pemulihan dan pembangunan masyarakat ini tidak hanya bisa dilihat dari sisi ekonomi tetapi harus melingkupi semua aspek dalam segi kehidupan. Aspek ekologis yang merupakan tongak pendorong dalam pembangunan masyarakat harus diperhatikan karena aspek ini akan sangat berhubungan dengan  pembangunan ekonomi kedepan. Aspek sosiologis sebagai kebiasaan modal sosial dalam pembangunan ekonomi dalam meningkatkan kesehjateraan masyarakatnya seperti pendidikan, kesehatan, dan lingkungan sosial. Aspek kebudayaan yang akan meningkatkan daya tawar sektor pariwisata yang selanjutnya akan meningkatkan kegiatan ekonomi Desa Tritis  harus diperhatikan dan dikembangkan secara intensif.
Semua aspek diatas baik aspek ekonomi, aspek sosiologis, aspek ekologis, maupun aspek kebudayaan merupakan satu kesatuan yang harus dimajukan secara bersama-sama. Semua itu dilakukan untuk memajukan kegiatan ekonomi Desa Tritis yang baru berjuang membangun ekonominya pasca bencana.

Profil Desa

Visi
“Terwujudnya sistem pemerintahan yang efektif sehingga mampu meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat”
Misi
a.       Penyelenggaraan pemerintahan yang efektif dan efisien.
b.      Pengembangan kemampuan administrasi pemerintah dan pembangunan.
c.       Peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat.
d.      Peningkatan pemberdayaan masyarakat.

Desa Tritis terletak di Kecamatan Selo yg hanya berjarak 0,2 Km atau sekitar 20 Km dari ibukota Kabupaten Boyolali. Desa Tritis merupakan desa yang wilayahnya berbentuk:

-          datar sampai berombak 5% dari keseluruhan wilayah Desa Tritis.
-          berombak sampai berbukit 50% dari keseluruhan wilayah Desa Tritis.
-          berbukit sampai gunung 45% dari keseluruhan wilayah Desa Tritis.

Di Desa Tritis ini terdapat 1 buah RW dan 4 buah RT. Desa yang berpenduduk kurang lebih 700 jiwa ini mempunyai panorama alam yang bagus dan indah. Dengan curah hujan per tahun yang cukup tinggi dan kondisi tanah nya, desa Tritis cocok digunakan untuk pertanian holtikultura. Kondisi sosial dan keamanan desa Tritis selama ini dikenal cukup kondusif. Empat puluh satu persen dari keseluruhan jumlah penduduk desa ini adalah berusia 25-55 tahun. Sebagian besar penduduk desa ini berprofesi sebagai petani pemilik lahan sendiri dan peternak sapi biasa.

Adat – Istiadat

Adat – Istiadat
Masyarakat di Desa Tritis pada umumnya masih mempertahankan adat -istiadat warisan nenek moyang yang dilakukan secara turun temurun. Contohnya: Syawalan, ruwahan,puputan, rejeban, ruwatan, tingkeban, sedekah bumi, dan selamatan orang yang meninggal ( pidakan ).
Masyarakat Desa Tritis memandang alam sebagai suatu rahasia yang menyimpan misteri. Oleh karena itu masyarakat mengadakan berbagai upacara serta mengadakan berbagai bentuk penghormatan pada para roh agar memelihara keselamatan dan kesuburan alam lingkungannya. Untuk memperoleh sesuatu mereka berusaha memikat roh-roh dengan cara menghidangkan sesaji.
Berbagai sesaji yang dipersembahkan kepada roh para leluhur setempat dengan maksud agar masyarakat terlindungi dari segala marabahaya. Selamatan atau slametan merupakan upacara yang terpenting. Pada acara upacara selalu diadakan makan bersama. Adapun sesaji yang dihidangkan umumnya berupa minuman, makanan, tembakau, rokok, bunga, kemenyan serta hasil bumi.
Dalam tindakan-tindakan mereka selalu dibayangi rasa tergantung pada alam gaib. Pikiran masyarakat tertuju pada arwah yang mereka yakini. Konsep yang demikian menjadi suatu tradisi, jika tidak dilakukan maka warga masyarakat kurang tenang  hatinya. Pesan-pesan nasehat orang tua yang telah meninggal sangat dipegang teguh masyarakat secara turun temurun.
Upacara yang mendapat perhatian khusus misalnya bersih desa yang jatuh pada bulan Sapar pada penanggalan Jawa sehingga disebut dengan Saparan. Upacara bersih desa yang dilakukan penduduk Desa Tritis memiliki maksud dan tujuan mendapatkan keselamatan. Seperti pendapat Clifford Geertz (1981) menjelaskan bahwa bersih desa/dusun merupakan upacara yang berhubungan dengan tujuan untuk keselamatan dusun. Oleh sebab itu upacara untuk pelaksanaannya terbatas pada suatu teritorial tertentu yaitu dusun/desa. Adapun upacara bersih dusun dilengkapi dengan cara menghaturkan makanan-makanan yang dibuat oleh penduduk kepada danyang desa atau dusun.
Selain upacara selamatan, juga melakukan upacara berhubungan dengan hari-hari besar agama Islam dan rentetan kegiatan yang menyertai antara lain dengan pesta seni. Pelaksanaan yang berhubungan dengan agama Islam adalah tradisi Syawalan. Pelaksanaan tradisi Syawalan dilakukan oleh semua warga secara gotong-royong. Pada tradisi Syawalan selalu menampilkan tari-tarian yang mereka miliki, diantaranya adalah Tari Campur Bawur. Tari-tarian yang digarap rakyat, berkembang di pedesaan disusun untuk kepentingan rakyat setempat. Masyarakat Desa Tritis mementaskan tari-tarian lebih didasari oleh dorongan kebutuhan naluri yang menyangkut kepercayaan dan perayaan-perayaan adat. Hal ini dilakukan masyarakat Desa Tritis sebagai langkah untuk mencapai suatu kesejahteraan hidup serta keselamatan jiwa.