Lingkungan Sosial
Masyarakat di Desa Tritis masih memegang teguh
tradisi kemasyarakatan di zaman dahulu dan masih kental terasa. Saat kita
mengunjungi desa itu kita akan merasakan suasana yang berbeda dan seperti
kembali ke zaman dahulu. Kadang kita juga melihat keadaan atau suasanna yang
sudah lama tidak kita lihat di kota. Beberapa hal yang terlihat dari
masyarakatnya saat datang ke sana adalah :
Keramahan
Masyarakat desa Tritis akan menyapa kita meski
hanya dengan senyum saat bertukar pandang meski tidak saling kenal. Jika kita
memiliki kesulitan, jika kita bertanya mereka akan dengan senang hati menjawab
pertanyaan kita. Bertamu ke rumah mereka, kita di sambut dengan hangat dan
tidak lupa di suguhi minuman. Anak-anaknya pun sangat ceria dan tidak memandang
orang asing dengan kaku, mereka berinteraksi dengan sangat baik. Jika kita
datang ke sana sebagai orang asing, kita tidak akan merasakan bahwa kita orang
asing. Kita akan merasa sangat senang karena di terima dengan baik.
Kebersamaan
Gotong royong, kegiatan saling bahu membahu
dengan suka rela. Kita sudah jarang melihat kegiatan ini di masa sekarang. Tapi
masyarakat desa Tritis sepertinya masih belum melupakan kegiatan ini. Mereka
rutin melakukan bersih desa bersama-sama untuk menjaga lingkungan.
Gotong-royong masih sangat kental, seperti membangun rumah. Dilakukan oleh satu
tetangga RT, baik laki-laki maupun perempuan. Jika pekerjaan yang di lakukan
lebih besar, maka bisa mencapai satu desa untuk membantu pengerjaan rumah itu.
Yang laki-laki melakukan di lapangan, sedangkan perempuan atau ibu-ibu banyak
yang membantu di dapur. Gotong-royong dilakukan sampai pekerjaan dalam
membangun rumah selesai. Tidak ada bayaran, namun di sediakan makanan seadanya.
Dan juga suka rela tanpa ada yang meminta.
Jika ada yang meninggal, semua pasti datang untuk
melayat. Dan semua ketua RT dan RW pasti datang untuk melayat yang ada di
desanya. Kumpul-kumpul warga sering dilakukan di sela-sela kegiatan bekerja.
Anak-anak bermain kebanyakan dengan kegiatan fisik dan bersama-sama dengan
temannya. Setiap warga mengenal tetangganya dengan baik.
Kesopananan Tradisional
Masyarakat desa Tritis masih memegang teguh
kesopanan dan aturan tradisional. Seperti jam malam bagi anak-anak dan
perempuan. Tidak adak perempuan yang keluar rumah di atas jam 7 malam jika
tidak ada kepentingan yang mendesak. Begitu juga anak-anak. Mereka masih
beranggapan dan mempercayai bahwa perempuan itu tidak boleh keluar malam-malam
karena itu adalah tindakan yang kurang sopan dan membuat persepsi atau
pandangan negatif pada perempuan itu.
Selain itu mereka juga menjunjung tinggi nilai
keagamaan. Mereka menganggap agama sangat penting karena itu mereka mengirim
anak-anak mereka ke TPA sedari kecil untuk belajar mengaji dan mendalami agama.
Selain itu pertemuan rutin keagamaan juga sering dilakukan oleh orang dewasa,
seperti mengadakan kegiatan mengaji bersama.
Kesederhanaan
Masyarakat desa Tritis masih di bilang sangat
sederhana dan berfikiran untuk individu. Seperti Fikiran untuk memajukan desa
mereka secara swadana masih belum begitu banyak, sebagai contoh meski tahu akan
mendapatkan keuntungan dengan menyediakan rumah untuk Homestay, tapi masih
belum banyak yang ingin memanfaatkan itu. Cara hidup merekapun masih
sangat sederhana. Banyak kita temui masyarakat yang berjalan sambil membawa
rumput di punggung mereka. Atau berjalan bersama-sama ke ladang. Jika tidak ada
kegiatan di ladang, mereka lebih memilih istirahat atau berkumpul dengan warga
yang lain. Tidak ada upaya untuk mencari cara lain agar dapat menaikan taraf
hidup mereka.
0 komentar:
Posting Komentar